Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR HUKUM FIQIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR HUKUM FIQIH. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2019

PENDAPAT ULAMA SOAL MEMAJANG GAMBAR ATAU LUKISAN DI RUMAH

Menyimpan lukisan atau gambar-gambar sebagai penghias rumah sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan masyarakat. Gambar dan lukisan yang disimpan cenderung variatif, mulai dari gambar tokoh, hewan, pemandangan alam, dan aneka gambar serta lukisan lain sesuai selera pemilik atau desain interior rumah.   

Lantas sebenarnya bagaimana syariat menyikapi realitas demikian? Bolehkah bagi seorang Muslim untuk menyimpan berbagai gambar dan lukisan dalam rumahnya?   Dalam berbagai hadits memang dijelaskan tentang larangan menyimpan gambar atau lukisan di dalam rumah. Misalnya seperti dalam hadits berikut:

   إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ   

 “Sesungguhnya Malaikat tidak masuk pada rumah yang terdapat gambar di dalamnya” (HR. Baihaqi).   

Berdasarkan hadits di atas, dapat dipahami seolah-olah menyimpan gambar di dalam rumah merupakan sebuah larangan syariat yang tidak dapat ditoleransi. Namun, rupanya terdapat hadits lain yang mengindikasikan ditoleransinya menyimpan gambar di dalam rumah, seperti hadits berikut ini: 

  عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَبِي طَلْحَةَ الأَنْصَارِيِّ يَعُودُهُ فَوَجَدَ عِنْدَهُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ فَأَمَرَ أَبُو طَلْحَةَ إِنْسَانًا يَنْزِعُ نَمَطًا تَحْتَهُ ، فَقَالَ لَهُ سَهْلٌ : لِمَ تَنْزِعُهُ ؟ قَالَ : لأَنَّ فِيهِ تَصَاوِيرَ ، وَقَدْ قَالَ فِيهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَدْ عَلِمْتَ ، قَالَ : أَلَمْ يَقُلْ إِلاَّ مَا كَانَ رَقْمًا فِي ثَوْبٍ ، قَالَ : بَلَى ، وَلَكِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِي  

Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa ia berkunjung pada Abu Thalhah al-Anshari untuk menjenguknya. Di sana terdapat Sahl bin Hunaif, lalu Abu Thalhah memerintahkan seseorang untuk melepaskan tikar yang ada di bawahnya, melihat hal tersebut, Sahl bertanya: “Kenapa engkau melepasnya?”    “Sebab pada tikar itu terdapat gambar, dan Rasulullah telah mengatakan tentang larangan menyimpan gambar, seperti halnya yang engkau tahu” jawab Abu Thalhah.   “Bukankah Rasulullah mengatakan: ‘Kecuali gambar yang ada di pakaian?’” sanggah Sahl   “Iya memang, tapi melepaskan (tikar) lebih menenteramkan hatiku” ungkap Abu Thalhah” (HR. An-Nasa’i).   

Dari dua hadits di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kategori lukisan atau gambar yang dilarang oleh syara’ untuk membuat ataupun menyimpannya. Namun para ulama sepakat atas keharaman suatu gambar ketika memenuhi lima kategori berikut: 

  فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان   فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان    

“Maka dapat dipahami bahwa gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)   

Jika melihat dari referensi di atas, maka gambar atau lukisan yang biasa terdapat di rumah-rumah tergolong sebagai suatu gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama tentang boleh-tidaknya menyimpan gambar tersebut, sebab umumnya lukisan dan gambar yang dipajang di rumah-rumah tidak memiliki bayangan, sebab hanya dalam bentuk yang datar.    

Klasifikasi perbedaan pendapat mengenai gambar ini dihimpun secara runtut dalam kitab Rawai’ al-Bayan dengan mengutip pandangan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani:  

 وقال الإمام النووى: إن جواز اتخاذ الصور إنما هو إذا كانت لا ظل لها وهى مع ذلك مما يوطأ ويداس أو يمتهن بالاستعمال كالوسائد وقال العلامة ابن حجر فى شرحه للبخارى حاصل ما فى اتخاذ الصور أنها إن كانت ذات أجسام حرم بالإجماع وإن كانت رقما فى ثوب فأربعة أقوال: الأول: يجوز مطلقا عملا بحديث إلا رقما فى الثوب الثانى: المنع مطلقا عملا بالعموم الثالث: إن كانت الصورة باقية بالهيئة قائمة الشكل حرم وإن كانت مقطوعة الرأس أو تفرقت الأجزاء جاز قال: وهذا هو الأصح الرابع: إن كانت مما يمتهن جاز وإلا لم يجز واستثنى من ذلك لعب البنات   

“Imam Nawawi menjelaskan bahwa boleh menggunakan gambar hanya ketika tidak memiliki bayangan, selain itu gambar tersebut juga biasa diinjak atau direndahkan penggunaannya, seperti bantal.”    Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani saat mensyarahi kitab Imam Bukhari mengatakan, “Kesimpulan dalam penggunaan gambar bahwa sesungguhnya jika gambar memiliki bentuk tubuh (jism) maka haram secara ijma’. Jika gambar hanya sebatas raqm (gambar) dalam baju, maka terdapat empat pendapat. Pertama, boleh secara mutlak, berdasarkan redaksi hadits illa raqman fits tsaubi (kecuali gambar dalam baju). Kedua, haram secara mutlak, berdasarkan keumuman redaksi hadits. Ketiga, jika gambarnya dapat menetap dengan keadaan yang dapat berdiri sendiri, maka hukumnya haram. Namun jika gambarnya terpotong kepalanya atau terpisah bagian tubuhnya maka boleh. Pendapat ketiga ini merupakan pendapat yang ashah (paling kuat). Keempat, jika gambarnya merupakan gambar yang dianggap remeh maka diperbolehkan, jika tidak dianggap remeh (diagungkan misalnya) maka tidak diperbolehkan. Dikecualikan dari permasalahan di atas adalah mainan anak kecil” (Syekh Muhammad Ali as-Shabuni, Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam, juz 2, hal. 415).    

Ulama yang berpandangan tentang bolehnya menyimpan gambar atau lukisan di dalam rumah, salah satunya adalah ulama kenamaan mesir, Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Beliau menjelaskan tentang permasalahan ini dalam himpunan fatwanya:   

س: ما القول فيمن يزينون الحائط برسوم بعض الحيوانات؟ هل هذه ينطبق عليها ما ينطبق على التماثيل البارزة المجسدة من تحريم؟   (ج): يقول فضيلة الشيخ الشعراوى: لا شيء في ذلك، ولكن ما حرم هو ما يفعله البعض لتقديس وتعظيم هذه الحيوانات، أما أن ترسم لكي يستعمل في الزينة فلا مانع من ذلك   
“Pertanyaan: ‘Bagaimana pendapat anda tentang orang yang menghiasi tembok dengan gambar/lukisan sebagian hewan? Apakah berlaku pada permasalahan ini suatu hukum yang berlaku pada patung yang berbentuk jasad yakni hukum haram?’”   “Syekh as-Sya’rawi menjawab: ‘Hal di atas tidak perlu dipermasalahkan, hal yang diharamkan adalah perbuatan yang dilakukan sebagian orang berupa mengultuskan dan mengagungkan gambar hewan tersebut. Sedangkan melukis hewan dengan tujuan untuk digunakan menghias (tembok) maka tidak ada larangan untuk melakukannya” (Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Mausu’ah Fatawa as-Sya’rawi, hal. 591)   Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keharaman menyimpan gambar yang disepakati oleh para ulama hanya berlaku pada gambar atau lukisan makhluk hidup yang memiliki bentuk (jism) atau memiliki bayangan dan diagungkan oleh pemiliknya, seperti patung misalnya. 
Sedangkan selain gambar dengan kriteria tersebut, ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya, sebagian ulama menghalalkan dan sebagian ulama yang lain mengharamkannya. Berbeda halnya ketika gambar atau lukisan bukan bergambar makhluk hidup, tapi berupa pemandangan alam, lukisan abstrak dan berbagai lukisan tak hidup lainnya, maka para ulama memperbolehkan lukisan tersebut.   
Sehingga sebenarnya bagi kita diperbolehkan untuk memilih salah satu di antara berbagai pendapat ulama dalam menyikapi gambar atau lukisan makhluk hidup yang biasa difungsikan untuk menghias rumah, selama pilihan kita atas pendapat tersebut tidak atas jalan meremehkan urusan agama (tasahul fid din) dan tetap mempertimbangkan penilaian masyarakat setempat. 
Yang pokok diperhatikan adalah tak boleh ada pengultusan berlebihan atas gambar. Wallahu a’lam.     Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/111985/pendapat-ulama-soal-memajang-gambar-atau-lukisan-di-rumah

Minggu, 13 Oktober 2019

HUKUM MENYEMBELIH HEWAN SEKARAT SEBAB TERTABRAK KENDARAAN ATAU SAKIT

Diskripsi Masalah:
Kebanyakan masyarakat kita jika ada hewan yang hampir mati (seperti, ayam, kambing dan sebagainya) karena tertabrak kendaraan, sakit, keracunan atau lainnya, mereka segera menyembelihnya dengan alasan sayang jika mati sia-sia.

Pertanyaan:
1. Bagaimana hukum hewan yang disembelih dalam keadaan seperti diatas?
2. Bagaimana batas kehalalan hewan yang disembelih dalam keadaan sekarat?
Jawaban A :
Ditafsil / dirinci, antara lain, syarat hewan yang disembelih adalah:
binatang darat yang halal dimakan,
pada awal penyembelihan binatang masih memiliki hayat mustaqirrah.

فتح المعين بهامش اعانة الطالبين – (ج 2 / ص 394) –
ويشترط في الذبيح – غير المريض – شيآن.أحدهما: أن يكون فيه حياة مستقرة أول ذبحه ولو ظنا شدة حركة بعده، ولو وحدها – على المعتمد – وانفجار دم، وتدفقه إذا غلب على الظن بقاؤها فيهما – فإن شك في استقرارها لفقد العلامات حرم – الى ان قال-  وثانيهما: كونه مأكولا – وهو من الحيوان البري: الانعام، والخيل، وبقر وحش، وحماره، وظبي.

Dalam kasus diatas penyebab hewan yang sekarat adalah berbeda-beda, sehingga dengan memahami persyaratan hewan yang akan disembelih dapat disimpulkan:

1. Jika hewan yang sekarat dan disembelih didahului oleh faktor eksternal yang menjadi penyebab kematianya seperti tertabrak kendaraan, memakan makanan beracun, luka akibat diterkam binatang buas, terkena reruntuhan bangunan, maka HALAL untuk dikonsumsi jika kita dapati MASIH ADA HAYAT MUSTAQIRRAH. Namun apabila kita dapati hanya memiliki HAYAT MADZBUH  – walaupun kita sembelih- maka hukumnya HARAM untuk dikonsumsi, sebab kematianya bukan karena disembelih.

2. Jika hewan yang sekarat dan disembelih karena faktor internal seperti sakit atau lapar, maka hukumnya halal untuk dikonsumsi. Namun  jika hewan tersebut sakit disebabkanmemakan makanan beracun, yang menjadi penyebab kematianya, maka hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Daftar Rujukan

الإقناع للشربيني – (ج 2 / ص 269) –
( والمجزىء منها ) أي الأربعة المذكورة في الحل ( شيئان ) وهما (قطع) كل الحلقوم و ( كل المريء ) مع وجود الحياة المستقرة أول قطعهما لأن الذكاة صادفته وهو حي كما لو قطع يد حيوان ثم ذكاه فإن شرع في قطعهما ولم تكن فيه حياة مستقرة بل انتهى لحركة مذبوح لم يحل لأنه صار ميتة فلا يفيده الذبح بعد ذلك – اى ان قال – ولا يشترط العلم بوجود الحياة المستقرة عند الذبح بل يكفي الظن بوجودها بقرينة ولو عرفت بشدة الحركة أو انفجار الدم ومحل ذلك ما لم يتقدمه ما يحال عليه الهلاك فلو وصل بجرح إلى حركة المذبوح وفيه شدة الحركة ثم ذبح لم يحل . وحاصله أن الحياة المستقرة عند الذبح تارة تتيقن وتارة تظن بعلامات وقرائن فإن شككنا في استقرارها حرم للشك في المبيح وتغليبا للتحريم فإن مرض أو جاع فذبحه وقد صار في آخر رمق حل لأنه لم يوجد سبب يحال الهلاك عليه ولو مرض بأكل نبات مضر حتى صار آخر رمق كان سببا يحال عليه الهلاك  فلم يحل على المعتمد.
(قوله مع وجود الحياة المستقرة الخ) هذا ان وجد سبب يحال عليه الهلاك والا فلايشترط وجودها بل يحل ولو آخر رمق. – الى ان قال– (قوله ومحل ذلك مالم تقدم مايحال عليه الهلاك الخ) صوابه ان تقدم مايحال عليه الهلاك الخ أى محل اعتبار الحياة المستقرة ولو بالظن ان تقدم سبب يحال عليه الهلاك فان لم يتقدم وذبح ولو آخر رمق حل ويدل لذك قوله بعد فان مرض الخ (قوله وفيه شدة الحركة) أى قبل الذبح وقوله ثم ذبح أى ولم يوجد منه حركة شديدة بعد الذبح ولا انفجار دم. (قوله فان مرض) ومنه الطاعون (قوله على المعتمد) وقال ابن حجر فى هذه الصورة يحل نظرا للمرض.
حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 2 / ص 578) –
وَحَاصِلُهُ : أَنَّ الْحَيَاةَ الْمُسْتَقِرَّةَ عِنْدَ الذَّبْحِ تَارَةً تُتَيَقَّنُ وَتَارَةً تُظَنُّ بِعَلَامَاتٍ وَقَرَائِنَ فَإِنْ شَكَكْنَا فِي اسْتِقْرَارِهَا ، حُرُمَ لِلشَّكِّ فِي الْمُبِيحِ وَتَغْلِيبًا لِلتَّحْرِيمِ.فَإِنْ مَرِضَ أَوْ جَاعَ .فَذَبَحَهُ وَقَدْ صَارَ آخَرُ رَمَقٍ حَلَّ لِأَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ سَبَبٌ بِحَالِ الْهَلَاكِ عَلَيْهِ .وَلَوْ مَرِضَ بِأَكْلِ نَبَاتٍ مُضِرٍّ حَتَّى صَارَ آخَرُ رَمَقٍ كَانَ سَبَبًا يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ .فَلَمْ يَحِلَّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ قَوْلُهُ : ( فَلَمْ يَحِلَّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ) : أَيْ مَا لَمْ تُوجَدْ الْحَرَكَةُ الشَّدِيدَةُ أَوْ انْفِجَارُ الدَّمِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ كَمَا فِي ع ش .
حاشية البجيرمي – (ج 4 / ص 288) –
قوله ( إذ لم يوجد فعل الخ ) فإن كان هناك سبب يحال عليه الهلاك فلا بد من الحياة المستقرة فإن وجدت حل وإلا فلا ومن ذلك البهيمة التي تأكل نباتا مضرا ويحصل لها تغير في الباطن وهو المسمى بالنفاخ ثم تذبح فإنها تحل إن وجد عند قطع الحلقوم والمريء حركة عنيفة أو انفجار الدم  قوله ( أو نحوه ) كأن أكل نباتا يؤدي إلى الهلاك أو انهدم عليه سقف أو جرحه سبع أو هرة فعلم أن النبات المؤدي لمجرد المرض لا يؤثر بخلاف المؤدي إلى الهلاك غالبا فيما يظهر إذ لا يحال عليه إلا حينئذ س ل وعبارة شرح م ر ولو انهدم سقف على شاة أو جرحها سبع فذبحت وفيها حياة مستقرة حلت وإن تيقن موتها بعد يوم أو يومين وإن لم يكن فيها حياة مستقرة لم تحل ا هـ   وقوله بعد يوم أو يومين ليس بقيد والأولى أن يقول وإن تيقن موتها بعد لحظة
إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 347) –
ولو جرح حيوان أو سقط عليه نحو سيف أو عضه نحو هرة فإن بقيت فيه حياة مستقرة فذبحه حل وإن تيقن هلاكه بعد ساعة وإلا لم يحل .
وقوله بعد ساعة أي لحظة كما في ع ش ونصه قوله بعد يوم أو يومين ليس بقيد بل المدار على مشاهدة حركة اختيارية تدرك بالمشاهدة أو انفجار الدم بعد ذبحها أو وجود الحركة الشديدة , وكان الأولى أن يقول وإن تيقن موتها بعد لحظة  اهــ
بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 545) –
(مسألة : ك) : تعرف الحياة المستقرة بأمارة كحركة شديدة بعد القطع ، أو الجرح ، أو تفجر الدم أو تدفقه ، أو صوت الحلق ، أو بقاء الدم على قوامه وطبيعته ، وتكفي الأولى وحدها ، وما يغلب على الظن إبقاؤها من الأخيرات فإن شك فكعدمها قاله في التحفة
حاشية الجمل – (ج 10 / ص 344) –
(قوله فيه حياة مستقرة)- الى ان قال – وقرر شيخنا الأجهوري هذا المقام فقال وضابطها أي الحياة المستقرة أن يكون فيه حركة اختيارية وتعرف بانهيار الدم أو بالحركة العنيفة أو بهما
إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 346) –
(قوله حياة مستقرة أول ذبحه) أي عند ابتداء ذبحه خاصة ولا يشترط بقاؤها إلى تمامه خلافا لمن قال به فلا يضر انتهاؤه لحركة مذبوح قبل تمام القطع إلا إن قصر في الذبح بأن تأنى فيه حتى وصل إلى ذلك قبل تمامه فإنه يحرم لتقصيره كما مر فإن لم توجد الحياة المستقرة أول الذبح ذبح كان ميتة إلا ما استثني وهو المريض الآتى وظاهر صنيعه أنه تشترط الحياة المستقرة في غير المريض مطلقا وجد سبب يحال عليه الهلاك أو لا.
والذي في حواشي البجيرمي على الخطيب والشرقاوي والباجوري: أن محل اشتراط وجود الحياة المستقرة في أول الذبح، عند تقدم سبب يحال عليه الهلاك كأكل نبات مضر وإلا بأن لم يتقدم سبب أصلا أو تقدم سبب لكن لا يحال عليه الهلاك كالمرض فلا يشترط ذلك. بل إذا وصل إلى آخر رمق ثم ذبح حل – الى ان قال – ونص عبارة الباجوري: ولا تشترط الحياة المستقرة إلا فيما إذا تقدم سبب يحال عليه الهلاك، كأكل نبات مضر، وجرح السبع للشاة، وانهدام البناء على البهيمة، وجرح الهرة للحمامة، وعلامتها: انفجار الدم والحركة العنيفة، فيكفي أحدهما على المعتمد وأما إذا لم يوجد سبب يحال عليه الهلاك فلا تشترط الحياة المستقرة، بل يكفي الحياة المستمرة، وعلامتها: وجود النفس فقط. فإذا انتهى الحيوان إلى حركة مذبوح بمرض أو جوع، ثم ذبح: حل، وإن لم ينفجر الدم، ولم يتحرك الحركة العنيفة خلافا لمن يغلط فيه. اه. ومثلها: عبارة الشرقاوي.

Jawaban B :  Harus ada hayat mustaqirroh, jika hewan yang disembelih terdahului oleh faktor eksternal yang menjadi penyebab kematianya.
Hayat mustaqirrah adalah kehidupan binatang yang masih disertai melihat serta bergerak dengan gerakan ikhtiar bukan gerakan keterpaksaan (dloruri). Dan Hayat mustamirrah adalah kehidupan binatang yang tetap ada sampai keluarnya ruh (nyawa) dari jasad. Sedangkan Hayat/harokat/’aisy madzbuh adalah kehidupan binatang yang tidak disertai dengan kemampuan melihat, bersuara dan bergerak dengan gerakan ikhtiyari, akan tetapi bersifat keterpaksaan (dlaruri).

إعانة الطالبين (ج 2 / ص 343) 
(قوله: وبه حياة مستقرة) أي والحال أن فيه حياة مستقرة، أي ثابتة مستمرة، وهي أن تكون الروح في الجسد ومعها إبصار، ونطق، وحركة اختيارية لا اضطرارية. واعلم أنه يوجد في عباراتهم حياة مستقرة، وحياة مستمرة وحركة مذبوح ويقال لها عيش مذبوح والفرق بينها أن الحياة المستقرة هي ما مر. والمستمرة هي التي تستمر إلى خروج الروح من الجسد. وحركة المذبوح هي التي لا يبقى معها إبصار باختيار، ولا نطق باختيار، ولا حركة اختيارية، بل يكون معها إبصار ونطق وحركة إضطرارية. وبعضهم فرق بينها: بأن الحياة المستقرة هي التي لو ترك الحيوان لجاز أن يبقى يوما أو يومين. والحياة المستمرة هي التي تستمر إلى انقضاء الاجل. وحركة المذبوح هي التي لو ترك لمات في الحال. والاول هو المشهور.

Contoh kasus:
Misalnya ada ayam yang tergilas oleh kendaraan, lalu gerakanya sudah tidak beraturan (jawa; Klepek-klepek) walaupun telah disembelih, maka ayam tersebut hukumnya haram untuk dikonsumsi.

Sumber: https://aswajamudabawean.wordpress.com/2017/09/16/hewan-sekarat-lalu-disembelih-halal/

Rabu, 09 Oktober 2019

SISA DARAH DALAM DAGING


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat hari raya Idul Adha, masyarakat muslim hampir seluruhnya dapat merasakan daging kurban. Berbagai menu olahan daging dibuat, mulai dari sate, gule, rendang, dan lain-lain. Namun, permasalahan muncul ketika proses perebusan daging mentah. Yang mana, air rebusan tersebut seketika menjadi kemerah-merahan. Secara pasti, hal tersebut berasal dari sisa-sisa darah dari daging yang direbus. Meskipun sebelumnya daging tersebut telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Yang kami tanyakan, apakah benar bahwa sisa darah dalam daging tidak najis? Apakah air rebusan tersebut juga dihukumi najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
(Sofia- Jombang)
_________________

Admin

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Perlu diketahui bahwa darah yang tersisa dalam daging statusnya tetap dihukumi najis, namun ditolerir (ma’fu) oleh syariat. Sebagaimana penjelasan syekh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul Asna al-Mathalib:

الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ

“Darah yang tersisa dalam daging atau tulang hewan yang telah disembelih statusnya najis yang ditolerir. Al-Halimi juga berkata: Adapun sedikit darah yang tersisa dalam urat-urat kecil yang ada pada daging, hukumnya (najis) yang ditolerir”.[1]
Mengenai persoalan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan tetap dihukumi najis, namun juga ditolerir syariat (ma’fu). Dengan syarat, sebelum proses perebusan, daging telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يَقَعُ كَثِيرًا أَنَّ اللَّحْمَ يُغْسَلُ مِرَارًا وَلَا تَصْفُو غُسَالَتُهُ، ثُمَّ يُطْبَخُ وَيَظْهَرُ فِي مَرَقَتِهِ لَوْنُ الدَّمِ فَهَلْ يُعْفَى عَنْهُ أَمْ لَا فَأَقُولُ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ

“Dalam suatu pembelajaran, muncul sebuah pertanyaan yang sering terjadi, yaitu: Sesungguhnya daging yang telah dibasuh berkali-kali sehingga sisa air basuhannya menjadi keruh kemudian daging tersebut dimasak dan mengeluarkan warna darah dari air rebusannya, apakah hal tersebut ditolerir ataukah tidak?. Aku menjawab: Yang jelas adalah yang pertama (yaitu ditolerir). Karena permasalahan ini sulit untuk dihindari”. [2]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa status darah dari yang tersisa dalam daging hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Kelonggaran hukum ini juga berlaku dalam permasalahan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan disebabkan darah tersebut dengan syarat telah melalui proses pembersihan maksimal sebelumnya. []waAllahu a’lam
 
____________________

[1] Zakaria al-Anshori, Asna al-Mathalib, vol. 1 hal. 12.
[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Manhaj, vol. 1 hal 193, cet. Darul Fikr.

Sumber: https://lirboyo.net/sisa-darah-dalam-daging/

KESUCIAN TOILET UMUM

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ini merupakan kejadian realita yang sering saya alami ketika akan bersuci di toilet umum yang hanya tersedia air di bak kecil. Terkadang keraguan akan kesucian air membuat saya bingung. Bagaimanakah hukumnya bersuci menggunakan air bak yang ada di toilet umum, memandang kondisinya yang rentan terkena najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Ab. Fida – Jakarta.
______________________

Admin

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Sebelumnya kami berterima kasih dan mengapresiasi kepada saudara penanya yang telah kritis dengan hukum syariat yang ada di sekitar.
Masyarakat mengakui bahwa toilet merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan toilet di berbagai tempat dan fasilitas umum, seperti SPBU, terminal, stasiun dan lain-lain. Namun sayang, hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan air yang memadai dan  sering tidak ideal untuk digunakan bersuci. Bak air yang berukuran kecil serta posisinya yang rentan akan terkena cipratan najis. Sementara toilet itu terkadang merupakan satu-satunya alternatif sebagai tempat untuk bersuci.
Menaggapi keadaan seperti itu, syekh Zainuddin al-Malibari pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ: وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِيْ مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلَانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلَيِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوِ الْغَالِبِ أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ عَمَلًا بِالْأَصْلِ الْمُتَيَقَّنِ لِأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الْغَالِبِ الْمُخْتَلَفِ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَزْمَانِ

“Kaidah penting: Adapun setiap perkara yang memiliki hukum asal suci kemudian ada prasangka akan kenajisannya dikarenakan kebiasaan hukum najis pada hal serupa, maka memiliki dua pemilahan hukum yaitu hukum asal dan realita yang sering terjadi. Adapun yang paling unggul di antara keduanya adalah status suci dengan mempertimbangkan hukum asalnya. Karena hukum asal yang didasari keyakinan dianggap lebih kuat dari pada hukum realita yang masih tak menentu sesuai keadaan dan waktu”.[1]
Berdasarkan keterangan tersebut, maka air yang ada di bak dapat digunakan untuk bersuci dengan memandang hukum asal yang diyakininya, yaitu suci. Sedangkan kondisi air yang rentan akan terkena najis masih bersifat praduga tanpa adanya penguat. []waAllahu a’lam

Sumber: https://lirboyo.net/kesucian-toilet-umum/

Senin, 09 April 2018

TANYA JAWAB SEPUTAR MA'MUM MASBUQ OLEH SYADILY EL-TIBYAN MEDENG.

Bagi ma'mum masbuq, memungkinkan sekali bacaan fatihahnya pada setiap roka'at dihukumi gugur (sholat tanpa membaca fatihah sama sekali).

Tanya:
Judulnya penuh tanda tanya, awas hati-hati, nanti bisa di salah paham lho.. apa sih ma'mum masbuq itu?
Jawab:
Judul tidak untuk di salah paham, bahkan agar dapat di paham.
Secara singkat, ma'mum masbuq adalah ma'mum yang tidak mendapatkan waktu bersama imam yang sekiranya mencukupi untuk bacaan fatihah secara normal (baik itu pada roka’at pertama ataupun roka'at yang lainnya).

Tanya:
Mana referensinya?
Jawab:
كتاب نهاية الزين

وَهُوَ من لم يدْرك مَعَ الإِمَام زَمنا يسع الْفَاتِحَة

كتاب حاشية البجيرمي على الخطيب  تحفة الحبيب على شرح الخطيب

وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَأْمُومَ إمَّا مُوَافِقٌ، وَإِمَّا مَسْبُوقٌ وَالْأَوَّلُ مَنْ أَدْرَكَ مِنْ قِيَامِ الْإِمَامِ قَدْرًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ بِالنِّسْبَةِ لِلْوَسَطِ الْمُعْتَدِلِ لَا لِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَالْمَسْبُوقُ مَنْ لَمْ يُدْرِكْ ذَلِكَ
قَوْلُهُ: (إلَّا رَكْعَةَ مَسْبُوقٍ) يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ الِاسْتِثْنَاءُ  مُتَّصِلًا إنْ قُدِّرَ فِي قَوْلِهِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، أَيْ فَتَجِبُ وَيَسْتَقِرُّ وُجُوبُهَا، وَأَنْ يَكُونَ مُنْقَطِعًا إنْ قُدِّرَ فَتَجِبُ فَقَطْ لِأَنَّ الْمُسْتَثْنَى نَفْيُ الِاسْتِقْرَارِ وَهُوَ لَيْسَ مِنْ جِنْسِ الْوُجُوبِ. وَعِبَارَةُ ع ش الِاسْتِثْنَاءُ بِالنَّظْرِ لِمُجَرَّدِ الْوُجُوبِ مُنْقَطِعٌ، وَبِالنَّظَرِ لِكَوْنِ الْمُرَادِ بِالْوُجُوبِ الِاسْتِقْرَارَ مُتَّصِلٌ، وَالْمُرَادِ بِالْمَسْبُوقِ بِهَا حَقِيقَةً كَأَنْ وَجَدَهُ رَاكِعًا أَوْ حُكْمًا كَأَنْ زُحِمَ عَنْ السُّجُودِ فَإِنَّهُ فِي حُكْمِ الْمَسْبُوقِ بِالنِّسْبَةِ لِلرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، فَإِذَا قَامَ بَعْدَ سُجُودِهِ وَوَجَدَ الْإِمَامَ رَاكِعًا رَكَعَ مَعَهُ، أَوْ كَانَ بَطِيءَ الْقِرَاءَةِ أَوْ الْحَرَكَةِ أَوْ نَسِيَ أَنَّهُ فِي الصَّلَاةِ وَتَخَلَّفَ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فَإِنَّهُ يُغْتَفَرُ ثَلَاثَةُ أَرْكَانٍ طَوِيلَةٍ، فَإِذَا قَرَأَهَا وَلَمْ يُسْبَقْ بِأَكْثَرَ مِنْهَا وَمَشَى عَلَى نَظْمِ صَلَاتِهِ ثُمَّ قَامَ فَوَجَدَ الْإِمَامَ رَاكِعًا أَوْ هَاوِيًا لِلرُّكُوعِ رَكَعَ مَعَهُ وَسَقَطَتْ عَنْهُ الْفَاتِحَةُ اهـ حَلَبِيٌّ. وَكَوْنُ هَذَا فِي حُكْمِ الْمَسْبُوقِ ظَاهِرٌ إذَا فَسَّرْنَاهُ بِاَلَّذِي لَمْ يُدْرِكْ مَعَ الْإِمَامِ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى، وَأَمَّا إذَا فُسِّرَ بِمَنْ لَمْ يُدْرِكْ مَعَ الْإِمَامِ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ بِأَيِّ رَكْعَةٍ، فَتَكُونُ هَذِهِ الصُّوَرُ مِنْهُ حَقِيقَةً. وَقَالَ الَأُجْهُورِيُّ. الْمُرَادُ بِهِ مَنْ لَمْ يُدْرِكْ خَلْفَ إمَامِهِ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ بِالنِّسْبَةِ لِقِرَاءَةِ الْوَسَطِ الْمُعْتَدِلِ لَا لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ

Tanya:
Apakah bacaan fatihah di dalam sholat itu tidak wajib, koh bisa-bisanya diatas anda mengatakan sholat tanpa membaca fatihah?
Jawab:
Singkatnya, bacaan fatihah di dalam sholat tentunya wajib, sebab salah satunya rukun sholat adalah membaca fatihah. Namun, wajibnya membaca fatihah itu tidak tetap, dalam arti bagi ma'mum masbuq suatu saat dapat gugur (wajib kemudian gugur, karena di tanggung oleh imam).

Tanya:
Mana referensinya?
Jawab:
كتاب نهاية الزين

(و) رَابِعهَا (قِرَاءَة فَاتِحَة كل رَكْعَة) فِي قِيَامهَا أَو بدله (إِلَّا رَكْعَة مَسْبُوق  

كتاب حاشية البجيرمي على الخطيب  تحفة الحبيب على شرح الخطيب

قَوْلُهُ: (بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يَسْتَقِرُّ وُجُوبُهَا عَلَيْهِ) أَيْ فَقَدْ وَجَبَتْ ثُمَّ سَقَطَتْ قَوْلُهُ: (لِتَحَمُّلِ الْإِمَامِ لَهَا عَنْهُ) بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْإِمَامُ مُحْدِثًا أَوْ فِي رَكْعَةٍ زَائِدَةٍ. اهـ. عَنَانِيٌّ. فَالْمُرَادُ بِالْإِمَامِ الْأَهْلُ لِلتَّحَمُّلِ، فَيُدْرِكُ الرَّكْعَةَ بِإِدْرَاكِهِ مَعَهُ رُكُوعَهُ الْمَحْسُوبَ لَهُ، وَلَوْ نَوَى مُفَارَقَةَ إمَامِهِ بَعْدَ الرَّكْعَةِ الْأُولَى ثُمَّ اقْتَدَى بِإِمَامٍ رَاكِعٍ وَقَصَدَ بِذَلِكَ إسْقَاطَ الْفَاتِحَةِ صَحَّتْ فِي أَوْجَهِ احْتِمَالَيْنِ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ وَاسْتَقَرَّ رَأْيُهُ عَلَيْهِ آخِرًا اهـ

Tanya:
Coba contohkan pemraktekan ma'mum masbuq seperti apa yang anda tuliskan dalam judul?
Jawab:
Baiklah, semisal si A adalah ma'mumnya, di depan si A ada si B, si C, dan si D (ketiganya sholat munfarid). Untuk roka'at pertama (semisal sholat 4 roka'at) si A niat ma'mum kepada si B disaat si B sedang dalam posisi ruku', si A dihukumi ma'mum masbuq, jadi jika si A langsung mengikuti ruku' dan dapat bersama-sama dengan si B ketika si B dalam posisi tuma'ninahnya ruku', maka si A dihukumi mendapat satu roka'at (si A tidak membaca fatihah sama sekali, dan fatihahnya si A ditanggung oleh si B sebagai imamnya).
Kemudian, ketika si A selesai mengikuti si B  sampai berdiri untuk melakukan roka'at yang kedua, ternyata si C yang didepannya (sholat munfarid) sedang dalam posisi ruku', pada posisi seperti ini, si A niat mufaroqoh kemudian niat ma'mum kepada si C, jika si A dapat bersama-sama dengan si C ketika si C dalam posisi tuma'ninahnya ruku', maka si A dihukumi mendapat satu roka'at (lagi-lagi si A tidak membaca fatihah sama sekali, sebab fatihahnya si A ditanggung oleh si C sebagai imamnya).
Selanjutnya, ketika si A selesai mengikuti si C  sampai berdiri untuk melakukan roka'at yang ketiga, ternyata si D yang didepannya (sholat munfarid) sedang dalam posisi ruku', pada posisi seperti ini, si A niat mufaroqoh kemudian niat ma'mum kepada si D, jika si A dapat bersama-sama dengan si D ketika si D dalam posisi tuma'ninahnya ruku', maka si A dihukumi mendapat satu roka'at (lagi-lagi si A tidak membaca fatihah sama sekali, sebab fatihahnya si A ditanggung oleh si D sebagai imamnya).
Lalu, ketika si A selesai mengikuti si D sampai berdiri untuk melakukan roka'at yang keempat, ternyata si C yang didepannya (sholat munfarid) sedang dalam posisi ruku', pada posisi seperti ini, si A niat mufaroqoh kemudian niat ma'mum kepada si C, jika si A dapat bersama-sama dengan si C ketika si C dalam posisi tuma'ninahnya ruku', maka si A dihukumi mendapat satu roka'at (lagi-lagi si A tidak membaca fatihah sama sekali, sebab fatihahnya si A ditanggung oleh si C sebagai imamnya).
Jadi, si A selalu dihukumi ma'mum masbuq pada setiap roka'atnya. Dan contoh yang seperti ini pada setiap roka'atnya hukum bacaan fatihah si A dihukumi gugur, sebab bacaan fatihahnya ditanggung oleh imam.

Tanya:
Wah, koh bisa seperti itu, mana referensinya?
Jawab:
كتاب نهاية الزين

وَلَو اقْتدى بِإِمَام رَاكِع فَرَكَعَ وَاطْمَأَنَّ مَعَه فِي رُكُوعه وَلما أتم الرَّكْعَة وَقَامَ وجد إِمَامًا غَيره رَاكِعا فَنوى مُفَارقَة هَذَا واقتدى بِالْآخرِ وَركع وَاطْمَأَنَّ مَعَه وَهَكَذَا إِلَى آخر صلَاته جَازَ وعَلى هَذَا فَيمكن سُقُوط الْفَاتِحَة عَنهُ فِي جَمِيع الرَّكْعَات

Tanya:
Ok, sekarang saya tanya, apabila ma'mum bacaan fatihahnya normal sedangkan imam bacaan fatihahnya sangat cepat, sehingga pada roka'at ke tiga dan ke empat (pada sholat ‘isya) tiba-tiba imam ruku', padahal ma'mum belum selesai membaca fatihahnya. Dalam posisi seperti ini, apa yang sebaiknya dilakukan oleh si ma'mum?
Jawab:
Sudah saya singgung diatas, secara singkat, ma'mum masbuq adalah ma'mum yang tidak mendapatkan waktu bersama imam yang sekiranya mencukupi untuk bacaan fatihah secara normal (baik itu pada roka’at pertama ataupun roka'at yang lainnya).
Dengan demikian, bagi si ma'mum yang mengalami seperti itu, yang seharusnya dilakukan adalah langsung mengikuti imamnya ruku', meski bacaan fatihahnya belum selesai. Sebab bacaan fatihahnya ditanggung oleh imam. Dengan catatan, si ma'mum tidak membaca bacaan sunat terlebih dahulu sebelum membaca fatihah, artinya dia langsung membaca basmalah dan pada saat imam yang bacaannya cepat tersebut tiba-tiba ruku', maka ikuti saja imam tersebut. Yang seperti ini juga termasuk contoh bahwa hukum ma'mum masbuq itu bukan hanya pada roka'at pertama saja, namun hukum ma'mum masbuq dapat terjadi pada setiap roka'at. 
Dengan demikian, memungkinkan sekali ma'mum hanya dapat membaca sebagian fatihahnya saja dan sebagiannya lagi di hukumi gugur sebab ditanggung oleh imam.

Tanya:
Ohya, mana referensinya?
Jawab:
كتاب نهاية الزين

وَلَو اقْتدى بِإِمَام سريع الْقِرَاءَة على خلاف الْعَادة وَالْمَأْمُوم معتدلها وَكَانَ فِي قيام كل رَكْعَة لَا يدْرك مَعَ الإِمَام زَمنا يسع الْفَاتِحَة من الْوسط المعتدل فَهُوَ مَسْبُوق فِي كل رَكْعَة فَيقْرَأ من الْفَاتِحَة مَا أدْركهُ وَإِذا ركع إِمَامه ركع مَعَه وَسقط عَنهُ بَاقِي الْفَاتِحَة لتحمل الإِمَام لَهُ وعَلى هَذَا فَيمكن سُقُوط بعض الْفَاتِحَة عَنهُ فِي كل رَكْعَة

Referensi dari dua kitab:


1. Kitab Nihayatuz Zain Halaman 60.
2. Kitab Khasyiyah Al-Bujairomi 'Alal Khotib Juz 2 Halaman 21.


والله أعلمُ بالصواب

Minggu, 28 Januari 2018

HAL-HAL YANG DAPAT MENGGUGURKAN NAFKAH UNTUK SEORANG ISTRI

Salah satu kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istri, namun dalam beberapa keadaan kewajiban ini bisa gugur.  Kapan saja suami tidak lagi wajib menafkahi istrinya? insya Allah, Pada kesempatan kali ini kami akan berusaha menjawab pertanyaan ini secara terperinci.
Nusyudz (durhaka istri)
Salah satu dampak nusyudz adalah gugurnya hak istri untuk mendapatkan nafkah. Jika di pagi hari istri melakukan nusyudz maka gugur hak nafkahnya pada hari itu walau pun di tengah hari istri kembali taat. Begitupula jika di awal musim istri melakukan nusyudz maka gugur hak mendapatkan pakaian pada musim itu walau pun di pertengahan musim ia kembali taat. Suami yang tetap memberikan nafkah karena tidak mengetahui bahwa nafkah gugur karena nusyudz boleh meminta kembali nafkah tersebut setelah mengetahui.
Nusyudz yang menggugurkan nafkah beragam. Yang terutama adalah jika istri menolak melayani segala jenis kegiatan seksual tanpa ada uzur meskipun hanya menolak untuk dicium. Berbeda jika istri menolak karena ada uzur seperti sakit misalnya, ia tetap berhak mendapatkan nafkah. Termasuk nusyudz yang adalah jika istri tidak secara penuh melakukan tamkin (penyerahan diri). Seperti istri yang hanya bersedia melakukan hubungan suami-istri di malam hari tidak mau di siang hari, atau bersedia untuk disetubuhi namun tidak mau dicumbu. Semua ini dapat mengugurkan nafkah asalkan suami tidak memaksa melakukan kegiatan seksual dengan istri yang nusyudz tersebut. Jika suami tetap melakukannya walau pun hanya sebentar, ia tetap wajib memberikan nafkah di hari itu dan juga memberikan pakaian di musim itu secara sempurna.
Semua hal yang mencegah istri untuk tamkin kepada suami walau pun dilakukan tanpa sekehendak istri dapat mengugurkan nafkah. Jadi, suami tidak wajib menafkahi istri jika ia diculik atau dipenjara baik secara zalim atau karena sebab ia melakukan kejahatan, karena tidak mungkinnya tamkin dari istri ketika itu. Begitupula jika istri disetubuhi secara syubhat, di masa iddah dari persetubuhan syubhat, suami tidak wajib memberikan nafkah kepada istri.
Bentuk nusyudz pengugur nafkah lain adalah kaburnya istri dari rumah. Begitu pula apabila istri keluar rumah tanpa izin suami dan tanpa ada prasangka suami merelakan. Sama saja baik rumah yang ditempati adalah rumah suami, atau rumah yang suami merelakan istrinya tinggal di sana seperti rumah ayah dari istri atau bahkan rumah milik istri sendiri.
Keluarnya istri tanpa kerelaan suami merupakan maksiat walau pun untuk menziarahi orang shaleh atau bahkan menghadiri majelis zikir. Istri boleh keluar rumah tanpa izin suami hanya jika dalam keadaaan darurat. Bentuk keadaan darurat seperti ketika ada ada indikasi rumah akan roboh karena sebab terlalu tua atau gempa, atau takut atas jiwa dan hartanya karena ada pencuri. Begitu pula jika ia keluar menuju hakim untuk menuntut haknya dari suami.
Termasuk alasan yang memperbolehkan istri keluar walau pun tanpa izin suami adalah mempelajari ilmu yang wajib seperti ilmu akidah yang wajib, ilmu tentang shalat, puasa, zakat dan hajinya agar ibadahnya sah. Keluar untuk menuntut ilmu yang tidak wajib atau masalah yang tidak mendesak bukan termasuk uzur. Ini semua jika suami atau mahram tidak bisa mengajarkannya, tidak bersedia memintakan fatwa untuknya dan tidak pula mengizinkannya keluar. Serupa dengan ini jika istri keluar untuk mencari nafkah dengan berdagang atau pekerjaan halal lain jika suami tidak bisa mencukupi kebutuhan nafkah istri. Ia boleh keluar walau pun suami tidak megizinkan.
Apabila suami bepergian jauh, istri boleh keluar untuk mengunjungi kerabat selama suami tidak melarangnya sebelum bepergian. Ini bukan termasuk nusyudz dan tidak memutus nafkah. Apabila suami ada bersamanya, istri tidak boleh keluar tanpa izin walau pun untuk menghadiri jenazah orang tuanya. Sebab masih mungkin baginya untuk meminta izin terlebih dahulu. Jika ia keluar tanpa izin maka ia dianggap nusyudz dan gugur nafkahnya.
Di antara nusyudz yang memutuskan nafkah adalah jika istri melakukan perjalanan jauh sampai batas luar daerah tanpa izin suami kecuali dalam keadaan darurat. Yaitu ketika suami berada jauh dan semua penghuni daerahnya mengungsi atau pindah, atau tersisa di sana orang-orang yang istri tidak merasa aman terhadap mereka atas jiwa dan hartanya. Dalam keadaan ini istri boleh ikut berpindah ke luar dan ia masih berhak menerima nafkah. Gugur pula kewajiban nafkah jika istri melakukan perjalanan dengan izin suami namun tujuan perjalanan itu adalah untuk kepentingan istri seperti silaturahim dengan keluarga istri atau untuk kepentingan orang lain. Dalam keadaan ini suami tidak wajib memberi nafkah karena istri tidak mungkin tamkin ketika bepergian. Berbeda jika suami mengizinkan istri bepergian sendiri untuk menyelesaikan kepentingan suami, dalam keadaan ini istri tetap wajib diberi nafkah, sebab istri telah melakukan tamkin (penyerahan diri) hanya saja suami yang menyiakan haknya.
Apabila suami ikut bepergian dengan istri walau pun tujuan bepergiannya adalah untuk kepentingan istri maka tidak gugur kewajiban nafkah. Kecuali jika suami melarangnya ikut namun istri tetap keluar sedangkan suami tidak mampu mengembalikannya. Dalam keadaan ini istri dianggap nusyudz dan terputus nafkahnya.
Jika istri menolak ajakan untuk pindah bersama suami maka gugur hak nafkahnya. Namun apabila suami bercumbu istri di masa penolakan tersebut, maka istri tetap wajib dinafkahi. Sebab percumbuannya itu dianggap sebagai bentuk kerelaan suami atas penolakan berpindah.
Termasuk nusyudz yang memutuskan nafkah jika  istri mengaku telah talak bain (yang tidak mungkin rujuk) dari suami dengan dusta karena pengakuan itu pastinya didasari ketidak-sukaan terhadap suami. Adapun sekedar caci maki atau menyakiti dengan lisan maka itu tidak termasuk nusyudz dan tidak pula mengugurkan nafkah. Mungkin saja itu didasari akhlaknya yang buruk bukan karena ketidak sukaan terhadap suami. Ia hanya perlu diberikan didikan saja, dan yang berhak mendidikanya adalah suami sendiri. Tidak perlu melaporkan cacian istri kepada hakim karena itu hanya menimbulkan kesulitan, aib dan akan menyulitkan hubungan keduanya setelahnya.
Hal lain yang mengugurkan nafkah adalah nusyudznya istri dengan murtad naudzu billahi min dzalik. Istri bisa kembali mendapatkan nafkah dengan kembali masuk ke dalam Islam sebelum selesainya iddah dengan syarat memberitahukan kepada suami. Begitupula jika seorang istri melakukan nusyudz di rumah seperti menolak disetubuhi kemudian suaminya pergi jauh. Ia bisa kembali mendapatkan nafkah dengan kembali taat kepada suaminya dengan cara memberitahukan kepada suaminya.
Usia
Pencegah nafkah kedua adalah usia istri yang masih kecil baik suami sama kecilnya atau sudah besar. Yang dimaksud kecil dalam masalah ini adalah yang belum sampai batas usia mampu untuk bersetubuh. Istri yang masih kecil tidak wajib diberi nafkah karena tidak mungkin suami memenuhi kebutuhan seksual darinya. Jika istri sudah besar yakni mungkin untuk disetubuhi sedangkan suami masih kecil maka istri berhak mendapatkan nafkah asalkan ia melakukan tamkin (penyerahan diri) kepada suami melalui  wali dari suaminya.
Ibadah
Pencegah nafkah ketiga adalah terhalangnya istri dari tamkin karena sebab ibadah. Yang dibahas pertama adalah masalah haji dan umrah. Istri yang melakukan ihram haji atau umrah tidak lepas dari dua keadaan:
  1. Dengan izin dari suami. Hukum masalah ini sama dengan hukum istri yang bepergian karena kepentingan dirinya. Jika suami ikut bersamanya, ia tetap berhak mendapatkan nafkahnya, tapi jika ia pergi sendiri maka nafkahnya gugur.
  2. Tanpa izin suami. Jika istri melakukan ihram tanpa izizn suami maka suami boleh memerintahkan untuk bertahallul (keluar dari ihram) baik dari haji sunah maupun haji wajib menurut pendapat yang kuat. Ini karena hak suami atas istri harus dilakukan segera sedangkan kewajiban haji tidak harus segera. Jika suami tidak memerintahkan tahallul, istri tetap berhak mendapatkan nafkah selama ia masih berada di rumah. Apabila istri telah keluar rumah untuk melakukan haji atau umrah maka gugur nafkahnya kecuali jika suami ikut bersama dengannya.
Masalah kedua adalah puasa. Suami tidak berhak mencegah istri untuk berpuasa Ramadhan. Dengan berpuasa Ramadhan istri tetap wajib diberi nafkah. Adapun puasa qodho Ramadhan, apabila waktu untuk mengqodho sudah sempit sekiranya tidak tersisa dari bulan Syakban kecuali seukuran hari yang ia tinggalkan maka suami tidak boleh melarangnya dan istri tetap berhak mendapatkan nafkah. Jika waktu untuk mengqodho masih lapang maka hukumnya sama dengan puasa sunah.
Mengenai puasa sunah, istri tidak boleh berpuasa sunah kecuali dengan izin suami. Jika suami mengizinkan, nafkahnya tidak gugur. Jika istri berpuasa tanpa izin, suami berhak memerintahkan untuk membatalkan puasanya, jika istri membatalkan puasa maka ia tetap mendapatkan nafkah. Jika tidak maka ia nafkahnya gugur. Dikecualikan dari masalah ini puasa sunah yang ditekankan setiap tahun seperti puasa Asyura dan puasa Arofah, suami tidak boleh melarang istri untuk melakukannya. Sedangkan puasa Senin dan Kamis, boleh bagi suami melarang istri untuk melakukannya.
Jika seorang lelaki melakukan akad nikah ketika istrinya dalam keadaan puasa sunah, maka ia tidak boleh memaksa untuk membatalkan puasa.
Mengenai puasa nadzar. Jika ketika nadzar istri tidak menentukan hari maka suami suami boleh melarang karena puasnya tidak harus dilakukan segera. Namun, jika istri menentukan hari saat bernadzar, maka hukumnya diperinci: Jika nadzarnya dilakukan sebelum nikah atau setelah nikah dengan izin suami maka suami tidak boleh melarangnya. Tapi jika nadzarnya dilakukan setelah nikah tanpa izin suami maka suami boleh melarangnya. Jika istri tetap melakukan puasa nadzar tanpa izin dan menolak ketika diperintahkan untuk membatalkan puasanya maka gugur nafkahnya.
Adapun puasa kafaroh, suami boleh melarang istri untuk melakukannya karena kewajiban melakukan puasa kafaroh tidak harus segera.
Masalah ketiga adalah shalat. Suami tidak boleh melarang istri melakukan shalat lima waktu atau menunda shalat lima waktu dari awal waktu. Ini karena masa melakukan shalat sebentar berbeda dengan ibadah haji dan puasa sunah.
Mengenai sahalat sunah ratibah (qabliyah dan badiyah), menurut pendapat yang shahih, suami tidak boleh melarangnya. Ini adalah sunah yang sangat ditekankan, namun suami boleh melarang istri memanjangkan shalatnya.
Suami boleh melarang istri melakukan shalat sunah mutlak. Begitupula diperbolehkan bagi suami melarang istri untuk keluar  melaksanakan Shalat Ied atau Shalat Gerhana namun tidak boleh melarang untuk melakukannya keduanya di rumah. Adapun masalah shalat qodho dan shalat nadzar, hukumnya sama dengan masalah puasa qodho dan nadzar.
Masalah keempat adalah itikaf. Jika istri keluar untuk beritikaf sendirian dengan izin suami maka gugur nafkahnya. Berbeda jika suami ikut keluar bersamanya, ia tetap berhak mendapatkan nafkah.
Apabila istri melakukan itikaf tanpa izin suami maka hukumnya diperinci: Jika itikafnya adalah itikaf sunah atau nadzar mutlak (yang tidak menentukan waktu), atau nadzar muayan (yang menentukan waktu) namun dinazari setelah nikah tanpa izin suami maka gugur nafkahnya. Jika nadzarnya adalah nadzar muayan yang dilakukan sebelum menikah maka tidak gugur nafkahnya.
Iddah
Pencegah nafkah yang keempat adalah iddah. Iddah ada bermacam-macam. Apabila wanita berada dalam masa iddah raj`iyah (yang masih bisa dirujuk) maka ia masih berhak mendapatkan nafkah, pakaian, tempat tinggal dan semua yang diberikan kepada istri kecuali peralatan kebersihan sampai berakhirnya masa iddah. Baik ia sedang hamil atau tidak. Dikecualikan jika dalam masa iddah rajiyah ia melakukan nusyuz seperti keluar rumah tanpa izin, melakukan safar (bepergian) atau murtad maka gugur nafkahnya. Dalam masalah ini penolakan berhubungan seksual tidak mengugurkan nafkah karena memang dalam masa iddah tidak boleh terjadi hubungan seksual kecuali setelah rujuk.
Jika iddahnya adalah iddah bain (yang tidak bisa rujuk) baik karena sebab khulu atau karena sebab talak tiga, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah dan pakaian namun ia tetap wajib diberi tempat tinggal sampai berakhir iddah. Dikecualikan apabila ia dalam keadaan hamil maka suami wajib memberikannya nafkah serta pakaian sampai melahirkan selama tidak melakukan nusyudz. Jika mantan suami mengira ia hamil kemudian memberinya nafkah di masa iddah namun ternyata ia tidak hamil, maka ia boleh meminta kembali apa yang telah diberikan.
Adapun wanita yang mengalami iddah wafat, ia tidak mendapatkan nafkah apa pun meskipun ia sedang hamil.
Demikianlah sekelumit tentang hal-hal yang menggugurkan nafkah, semoga bermanfaat untuk kita semua.. Aamiin,.
**Dari berbagai kitab Fiqh syafiiyah.

Sumber:
http://forsansalaf.com/2017/07/24/perkara-yang-menggugurkan-nafkah/

Rabu, 29 April 2015

Bagaimana hukum ziarohnya perempuan yang sedang chaid, dan apa hukum membaca al-qur'an bagi dia?

Hukum ziaroh qubur bagi kaum
perempuan yang telah mendapat izin dari suaminya atau walinya, para ulama mentafsil sebagai berikut :

1. Jika ziarohnya tidak menimbulkan hal yang
terlarang dan yang diziarohi itu kuburnya Nabi, wali, ulama dan orang sholih, maka hukumnya sunat

2. Jika ziarohnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarohi itu kuburnya orang biasa, maka sebagian ulama mengatakan boleh, sebagian lagi mengatakan makruh.

3. Jika ziarohnya menimbulkan hal yang terlarang, maka hukumnya haram.

Dan saya tidak menemukan keterangan dalam kitab yang membeda-bedakan antara perempuan yang dalam keadaan suci atau perempuan yang sedang chaid,Hanya saja karena keadaannya sedang haid, perlu dihindari mengerjakan hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang haid, seperti berdiam dimasjid, dan mememang, membawa dan membaca al-qur'an.

Jadi jika pemakamannya berada didalam masjid ia tidak boleh ikut masuk untuk berdiam diri disana untuk berziaroh, solusinya
adalah berziaroh diluar masjid.

Sedangkan saat berziaroh solusinya ketika membaca al-qur'an (Biasanya orang yang sedang ziaroh membaca yasin) diniati
dzikir, karena orang haid boleh membaca qur'an dengan niat dzikir. ( Chusus untuk keterangan ini, referensi nya ngikut dengan referensi yang saya ambil dari kitab majmu' Juz 2 halaman 356-358 yang sudah saya sertakan di bawah )


Referensi;
Halaman 216
الكتاب ؛ ﺗﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ

ﺗﺴﻦ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻷﺟﻞ ﺗﺬﻛﺮ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺇﺻﻼﺡ ﻓﺴﺎﺩ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﻧﻔﻊ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺑﻤﺎ ﻳﺘﻠﻰ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﺨﺒﺮ ﻣﺴﻠﻢ : ﻛﻨﺖ ﻧﻬﻴﺘﻜﻢ ﻋﻦ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻓﺰﻭﺭﻫﺎ. ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ
: ﺍﻃﻠﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺍﻋﺘﺒﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺸﻮﺭ. ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺧﺼﻮﺻﺎ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺼﻼﺡ. ﻭﺗﻜﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻟﺠﺰﻋﻨﻬﻦ ﻭﻗﻠﺔ ﺻﺒﺮﻫﻦ، ﻭﻣﺤﻞ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺸﺘﻤﻞ ﺍﺟﺘﻤﺎﻋﻬﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺮﻡ ﻭﺇﻻ ﺣﺮﻡ، ﻭﻳﻨﺪﺏ ﻟﻬﻦ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮﻩ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻛﺬﺍ ﺳﺎﺋﺮ
ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ. ﺍه

Referensi;
Halaman 58

الكتاب ؛ ﺣﺠﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻮﻡ


ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻟﻠﻘﺒﻮﺭ، ﻓﻘﺎﻝ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﺮﺍﻫﻴﺘﻬﺎ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺃﻭ ﺗﻨﺰﻳﻪ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻌﻦ ﺯﻭﺍﺭﺍﺕ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ. ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ. ﻭﺫﻫﺐ ﺍﻷﻛﺜﺮﻭﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﻨﺖ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ، ﻭﺍﺳﺘﺪﻟﻮﺍ
ﺑﻤﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻗﺎﻟﺖ : ﻛﻴﻒ ﺃﻗﻮﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺯﺭﺕ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ؟ ﻗﻮﻟﻲ : ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺃﻫﻞ ﺩﻳﺎﺭ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ. ﺍﻫـ


Menurut syafi'iyah, perempuan yang sedang chaid hukum nya charam membaca al-qur'an, namun jika mengikuti kalangan malikiyah, maka kalangan malikiyah itu berpendapat bahwa perempuan haidh hukumnya diperbolehkan membaca al-Qur'an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak.

Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an sampai dia mandi ( bersuci) , baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca )
Pendapat ini adalah qaul mu'tamad ( menurut malikiyah ), sebab seorang perempuan dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut.

Namun dalam hal ini ada qaul dho'if yang berpendapat seorang perempuan ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur'an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an (sampai dia
mandi bersuci )


Referensi ;
Juz 2 halaman 356-358



الكتاب : المجموع

قال المصنف رحمه الله * [ ويحرم قراءة القرآن لقوله صلى الله عليه وسلم: (لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن) ] * [ الشرح ] هذا الحديث رواه الترمذي والبيهقي من رواية ابن عمر رضى الله عنهما وضعفه الترمذي والبيهقي وروى لا يقرأ بكسر الهمزة علي النهى وبفتحها على الخبر الذي يراد به النهى وقد سبق بيانه في آخر باب ما يوجب الغسل وهذا الذى ذكره من تحريم قراءة القرآن علي الحائض هو الصحيح المشهور وبه قطع العراقيون وجماعة من الخراسانيين وحكى الخراسانيون قولا قديما
للشافعي أنه يجوز لها قراءة القرآن وأصل هذا القول أن أبا ثور رحمه الله قال قال أبو عبد الله يجوز للحائض قراءة القرآن فاختلفوا في أبي عبد الله فقال بعض الاصحاب أراد به مالكا وليس للشافعي قول بالجواز واختاره امام الحرمين والغزالي في البسيط وقال جمهور الخراسانيين أراد به الشافعي وجعلوه قولا قديما قال الشيخ أبو محمد وجدث أبا ثور جمعهما في موضع فقال قال أبو عبد الله ومالك واحتج من أثبت قولا بالجواز اختلفوا في علته على وجهين أحدهما أنها تخاف النسيان لطول الزمان بخلاف الجنب والثاني أنها قد تكون معلمة فيؤدى إلى انقطاع حرفتها فان قلنا بالاول جاز لها قراءة ما شاءت إذ ليس لما يخاف نسيانه ضابط فعلى هذا هي كالطاهر في القراءة وان قلنا بالثاني لم يحل الا ما يتعلق بحاجة التعليم في زمان الحيض هكذا ذكر الوجهين وتفريعهما امام الحرمين
وآخرون هذا حكم قراءتها باللسان فأما اجراء القراءة علي القلب من غير تحريك اللسان والنظر في المصحف وامرار ما فيه في القلب فجائز بلا خلاف وأجمع العلماء علي جواز التسبيح والتهليل وسائر الاذكار غير القرآن للحائض والنفساء وقد تقدم ايضاح هذا مع جمل من الفروع المتعلقة به في باب ما يوجب الغسل والله أعلم
فرع ; في مذاهب العلماء في قراءة الحائض القرآن قد ذكرنا أن مذهبنا المشهور تحريمها وهو مروى عن عمر وعلي وجابر رضي الله عنهم وبه قال الحسن البصري وقتادة وعطاء وأبو العالية والنخعي وسعيد بن جبير والزهرى واسحق وأبو ثور وعن مالك وأبى حنية وأحمد روايتان احداهما التحريم والثانية الجواز وبه قال داود واحتج لمن جوز بما روى عن عائشة رضى الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهى حائض: ولان زمنه يطول فيخاف نسيانها واحتج أصحابنا والجمهور بحديث ابن عمر المذكور ولكنه ضعيف وبالقياس علي الجنب فان من خالف فيها وافق علي الجنب الا داود والمختار عند الاصوليين أن داود لا يعتد به في الاجماع والخلاف وفعل عائشة رضى الله عنها لا حجة فيه علي تقدير صحته لان غيرها من الصحابة خالفها وإذا اختلفت الصحابة رضى الله عنهم رجعنا إلى القياس وأما خوف النسيان فنادر فان مدة الحيض غالبا ستة أيام أو سبعة
ولا ينسى غالبا في هذا القدر ولان خوف النسيان ينتفى بامرار القرآن علي القلب والله أعلم
قال المصنف رحمه الله * [ ويحرم حمل المصحف ومسه لقوله تعالى (لا يمسه الا المطهرون) ويحرم اللبث في المسجد لقوله صلي الله عليه وسلم (لا أحل المسجد لجنب ولا لحائض) فأما العبور فانها إذا استوثقت من نفسها جاز لانه حدث يمنع اللبث في المسجد فلا يمنع العبور كالجنابة ]
[ الشرح ] يحرم علي الحائض والنفساء مس المصحف وحمله واللبث في المسجد وكل هذا متفق عليه عندنا وتقدمت أدلته وفروعه الكثيرة مبسوطة في باب ما يوجب الغسل والحديث المذكور رواه أبو داود والبيهقي وغيرهما من رواية عائشة رضي الله عنها واسناده غير قوى وسبق بيانه هناك وأما عبورها بغير لبث فقال الشافعي رضي الله عنه في المختصر أكره ممر الحائض في المسجد قال أصحابنا ان خافت تلويثه لعدم الاستيثاق بالشد أو لغلبة الدم حرم العبور بلا خلاف وان أمنت ذلك فوجهان الصحيح منهما جوازه وهو قول ابن سريج وأبى اسحاق المروزى وبه قطع المصنف والبندنيجي وكثيرون وصححه جمهور الباقين كالجنب وكمن علي بدنه نجاسة لا يخاف تلويثه وانفرد امام الحرمين فصحح تحريم العبور وان أمنت لغلظ حدثها بخلاف الجنب والمذهب الاول هذا حكم عبورها قبل انقطاع الحيض فإذا انقطع ولم تغتسل فالمذهب القطع بجواز عبورها في المسجد وطرد صاحب الحاوى وامام الحرمين فيه الوجهين والحائض الذمية كالمسلمة فتمنع من المكث في المسجد بلا خلاف بخلاف الكافر الجنب فان في تمكينه من المكث فيه وجهين مشهورين قال الشيخ أبو محمد الجويني في كتابه الفروق في مسائل شروط الصلاة والفرق أن المنع لخوف التلويث والكافرة كالمسلمة في هذا قال أصحابنا والمستحاضة وسلس البول ومن به جرح سائل ونحوهم ان خافوا التلويث حرم العبور وقد سبق هذا في آخر باب ما يوجب الغسل والله أعلم



Referensi ;
Juz 19 halaman 352

الكتاب : الموسوعة الفقهية الكويتية

وذهب المالكيّة إلى أنّ الحائض يجوز لها قراءة القرآن في حال استرسال الدّم مطلقاً ، كانت جنباً أم لا ، خافت النّسيان أم لا . وأمّا إذا انقطع حيضها ، فلا تجوز لها القراءة حتّى تغتسل جنبًا كانت أم لا ، إلاّ أن تخاف النّسيان . هذا هو المعتمد عندهم ، لأنّها قادرة على التّطهّر في هذه الحالة ، وهناك قول ضعيف هو أنّ المرأة إذا انقطع حيضها جاز لها القراءة إن لم تكن جنبًا قبل الحيض . فإن كانت جنباً قبله فلا تجوز لها القراءة .

Minggu, 05 April 2015

HUKUM MEMANDIKAN ORANG MATI SYAHID DALAM KEADAAN JUNUB ( oleh Syadily NU )

Memandikan orang yang mati syahid, meskipun dalam keadaan junub atau yang lain nya, hukum memandikan nya HARAM

Referensi:
Kitab fatchul wahab juz 1 halaman 171

وحرم غسل شهيد ولو جنبا أو نحوه وصلاة عليه لخبر البخاري عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر في قتلى أحد بدفنهم بدمائهم ولم يغسلوا ولم يصل عليهم، وفي لفظ ولم يصل عليهم بفتح اللام
والحكمة في ذلك إبقاء أثر الشهادة عليهم وأما خبر أنه صلى الله عليه وسلم خرج فصلى على قتلى أحد صلاته على الميت، فالمراد جمعا بين الادلة دعا لهم كدعائه للميت كقوله تعالى: وصل عليهم وسمى لشهادة الله ورسوله له بالجنة
وقيل لانه يشهد الجنة وقيل غير ذلك وهو أي الشهيد الذي لا يغسل ولا يصلي عليه من لم يبق فيه حياة مستقرة، الصادق بمن مات ولو امرأة أو رقيقا أو صبيا أو مجنونا ,,,, الخ

Jumat, 27 Februari 2015

Seputar Hukum Jama'ah Di Luar Masjid

Pertanyaan:

» Zazuly Al Alie

Butuh dalil yang menjelaskan tentang sahnya jama'ah di luar masjid seceptnya


Jawaban:

Sebenar nya saya masih kurang faham dengan pertanyaan anda, tapi saya akan mencoba menjawab nya, mungkin yang anda maksud adalah beberapa keterangan yang ada di bawah ini:

Apabila antara imam dan ma’mum melakukan sholat
jam’ah di luar masjid, seperti mushola rumah dan
sebagainya, ini membutuhkan 4 syarat.

Yang pertama :

Antara imam dan ma’mum tidak melebihi jarak 300
dziro’ ( +- 150 m )

Yang kedua :

Antara imam dan ma’mum tidak ada ha’il
( penghalang )

Yang ketiga :

Ma’mum harus mengetahui gerak gerik imam seperti
melihat imam, melihat gerakan orang yang ikut
imam, mendengar suara imam, atau mendengar
suara muballigh ( penyampai suara imam atau
speaker dan lain lain)

Yang ke empat :

Ma’mum tidak boleh mendahului imam.
Maka dengan demikian bila kita melihat syarat yang
kedua, maka jelas praktek sholat jama’ah seperti
yang di pertanyakan ” tidak sah “.
Akan tetapi andai pintu itu tertutup di pertengahan
sholat , maka tidak apa apa ( sah )
Alasan dari tidak sah adalah karena terdapat Ha`il
(penghalang) yang mencegah makmum untuk bisa
melihat imamnya.

Dalam kitab Nihayatuz Zain hal 122 di jelaskan :

ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺎ ﻓﻲ ﺑﻨﺎﺀ ﺃﻭ ﺑﻨﺄﻳﻦ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﻓﻀﺎﺀ ﻭﺍﻵﺧﺮ ﻓﻲ ﺑﻨﺎﺀ، ﻭﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺠﺪ ﺃﺷﺘﺮﻁ ﻣﻊ ﻣﺎ ﻣﺮ ﺁﻧﻔﺎ ﻋﺪﻡ ﺣﺎﺋﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ﺃﻭ ﺍﻹﺳﺘﻄﺮﺍﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﻻﻳﻤﻜﻨﻪ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﺪﺑﺮ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ـــ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ـــ ﻓﻠﻮ ﺣﺎﻝ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺟﺪﺍﺭ ﻻ ﺑﺎﺏ ﻓﻴﻪ ﺃﻭ ﺑﺎﺏ ﻣﺴﻤﺮ ﺃﻭ ﻣﻐﻠﻖ ﺃﻭ ﻣﺮﺩﻭﺩ ﺃﻭ ﺷﺒﺎﻙ ﻣﻨﻊ ﺻﺤﺔ ﺍﻹﻗﺘﺪﺍﺀ. ﺇﻫـ

Apabila mereka (imam & makmum) berada di satu
bangunan atau di dua bangunan, atau salah satunya
ada di tanah lapang dan yang satunya lagi berada di
bangunan, sementara semua tempat tersebut bukan
masjid, maka beserta persyaratan yang telah lalu
disyaratkan tidak adanya penghalang di antara
mereka yang dapat mencegah melihat imam atau
mencegah untuk bisa menuju imam sekira andai
makmum berkehendak menuju imam maka tidak
memungkinkan atau membelakangi qiblat -sampai
perkataan pengarang- lantas andai di antara
mereka terdapat dinding yang tak berpintu, atau
pintu yang dicukil dengan paku, atau pintu yang
dikunci, atau ditutup, atau jendela teralis, maka hal
tersebut dapat mencegah keabsahan sholat
berjamaah.

Dalam kitab I’anatuth Tholibin juz 2 hal. 28-29 juga di jelaskan :

ﺃﻭ ﻭﻗﻮﻑ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﺣﺬﺍﺀ ﻣﻨﻔﺬ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺋﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺎ ﺑﺒﻨﺄﻳﻦ ﻛﺼﺤﻦ ﻭﺻﻔﺔ ﻣﻦ ﺩﺍﺭ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺑﺒﻨﺎﺀ ﻭﺍﻵﺧﺮ ﺑﻔﻀﺎﺀ ﻓﻴﺸﺘﺮﻁ ﺃﻳﻀﺎ ﻫﻨﺎ ﻣﺎ ﻣﺮ، ﻓﺈﻥ ﺣﺎﻝ ﻣﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﺮﻭﺭﺍ ﻛﺸﺒﺎﻙ ﺃﻭ ﺭﺅﻳﺔ ﻛﺒﺎﺏ ﻣﺮﺩﻭﺩ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻐﻠﻖ ﺿﺒﺘﻪ ﻟﻤﻨﻌﻪ ﺍﻟﻤﺸﺎﻫﺪﺓ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻹﺳﺘﻄﺮﺍﻕ، ﻭﻣﺜﻠﻪ ﺍﻟﺴﺘﺮ
ﺍﻟﻤﺮﺧﻰ، ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﻘﻒ ﺃﺣﺪ ﺣﺬﺍﺀ ﻣﻨﻔﺬ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﺍﻹﻗﺘﺪﺍﺀ ﻓﻴﻬﻤﺎ. ﺇﻫـ

Apabila terdapat penghalang maka disyaratkan ada
seseorang dari anggota makmum yang berdiri di
depan pintu sebagaimana ketika mereka berada di
dua bangunan, seperti di dalam kamar dan teras
rumah, atau salah satu dari mereka berada di
bangunan dan yang satunya lagi berada di tanah
lapang, maka persyaratan yang telah lalu juga
menjadi syarat dalam hal ini. Lantas apabila terdapat
penghalang yang mencegah untuk berjalan seperti
jendela teralis, atau mencegah melihat imam seperti
pintu yang tertutup meskipun tidak dikunci dan
meskipun tidak mencegah untuk melakukan Istithroq
(menuju imam); dan sama seperti pintu yaitu kain
kelambu yang turun ke bawah (ngelembreh ; Jawa),
atau tidak ada orang ygan berdiri di depan pintu,
maka sholat berjamaah dalam kasus ini tidak sah
karena pintu tersebut mencegah untuk bisa melihat
imam.

Dalam kitab Al Fawa’id Al Tsaminah, karya Al Allamah
Al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz Al Husainy
Hal 96 sebagai berikut :

ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﺛﻼﺙ ﺣﺎﻻﺕ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻻﻭﻟﻰ: ﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻌﺎ ﻓﻰ ﻣﺴﺠﺪ ﻓﻴﺸﺘﺮﻁ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻮﻗﻒ ﻭﺍﻥ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻟﻮﺻﻮﻝ ﺍﻟﻰ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﻟﻮ ﺑﺎﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺍﻵﺧﺮ ﺧﺎﺭﺟﻪ ﻓﻴﺸﺘﺮﻁ ﻣﻊ ﻣﺎﺫﻛﺮ ﺍﻥ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻟﻮﺻﻮ ﺍﻟﻰ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﻭﺍﻥ ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺣﺎﺋﻞ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ﺍﻭ ﺍﻟﻤﺮﻭﺭ ﻭﺍﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﺫﺭﺍﻉ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎ

Dan juga tersebut dalam kitab Fathul Mu’in, karya
Syeikh Zainuddin Al Malibary halaman 36 sebagai
berikut :

ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻝ ﺇﻣﺎﻡ ﺑﺮﺅﻳﺔ ﻟﻪ ﺍﻭ ﻟﺒﻌﺾ ﺻﻒ ﺍﻭ ﺳﻤﺎﻉ ﻟﺼﻮﺗﻪ ﺍﻭ ﺻﻮﺕ ﻣﺒﻠﻎ ﺛﻘﺔ ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺍﺟﺘﻤﺎﻋﻬﻤﺎ ﺍﻱ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﺑﻤﻜﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﻋﻬﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺎﺕ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺍﻟﺨﺎﻟﻴﺔ ، ﻓﺎﻥ ﻛﺎﻧﺎ ﺑﻤﺴﺠﺪ… ﺻﺢ ﺍﻹﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﻪ ﻭﺍﻥ ﺯﺍﺩﺕ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺔ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﺫﺭﺍﻉ ﺍﻭ ﺍﺧﺘﻠﻔﺖ ﺍﻷﺑﻨﻴﺔ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﻦ ﺑﺒﻨﺎﺀ ﻓﻴﻪ ﻻ ﻳﻨﻔﺬ ﺑﺎﺑﻪ ﺍﻟﻴﻪ ﺑﺄﻥ ﺳﻤﺮ ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺳﻄﺤﺎ ﻻ ﻣﺮﻗﻰ ﻟﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﺗﺼﺢ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺣﻴﻨﺌﺬ

Dan diantara syarat sah berma’mum, yaitu
mengetahui pindah pindahnya imam dari satu rukun
ke rukun yang lainnya. dengan cara melihat sendiri
baginya, atau melihat sebagian shof, atau mendengar
suara imam, atau suara muballigh yang dipercaya.
Dan diantara syarat sah berma’mum, yaitu
berkumpul kedua ma’mum dan imam pada tempat
sebagaimana telah diketahui atasnya berjama’ah
pada masa masa yang lampau. Kalau kedua imam
dan ma’mum itu berada dalam satu masjid …. Maka
sah berma’mum, meskipun jarak antara keduanya
melebihi 300 hasta dan meskipun berbeda-beda
ruangannya. Lain halnya orang yang berada pada
ruangan masjid yang tidak tembus pintu ruangan itu
ke masjid dengan dipaku pintunya itu, atau adalah
ma’mum itu di tingkat atas yang tidak ada tangga
penghubung padanya, maka tidak sah berma’mum,
karena tidak berhimpun ketika itu.

Referensi:
Kitab I'anatutholibin juz 2, halaman 32

الحالة الأولي : أن يجتمعا في مسجد .
الحالة الثانية : أن يجتمعا في غيره ، وهذه تحتها أربع صور ، وذللك لأنهما إما أن يجتمعا في فضاء ، أو في بناء ، أة يكون الإمام في بناء والمأموم في فضاء ، أو بالعكس .

===================

وفي الصورة الأولي من الحالة الثانية يشترط لصحة القدوة قرب المسافة بأن ﻻ يزيد ما بينهما علي ثلثمائة ذراع .


Referensi:
Kitab Bajuri juz 1, halaman 200

قوله وﻻ حائل هناك أي بحيث يمكن الوصول إلي الإمام ويشترط هنا أن يمكن الوصول إليه من غير إزورار وانعطاف

Referensi:
Kitab I'anatutholibin juz 2, halaman 35

قوله بأن إلح تصوير للإزورار أو الإنعطاف وقوله ينحرف عن جهة القبلة أي بحيث تكون خلف ظهره ، بحلاف ما إذا كانت عن ييمينه أو يساره فإنه ﻻ يضر .

Keterangan terachir:

Kurang lebih nya seperti ini,
Hukum jama'ah di luar masjid itu syah, misal nya di mushola, rumah, lapangan dll

Apabila imam dan ma'mum berada di luar masjid, maka hukum nya bisa syah apabila antara imam dan ma'mum tidak melebihi jarak 300 dziro dan tidak ada penghalang di antara kedua nya, dan ma'mum itu harus bisa tembus ( menuju sampai ke imam ) meskipun jalan nya berbelok belok, yang penting jangan sampai jalan tembus nya itu membelakangi qiblat, karena jika sampai membelakangi qiblat itu tidak syah.


» Saya ambilkan contoh;

Ada suatu mushola cuma punya pintu depan saja, dan imam berada di dalam mushola, sedangkan ma'mum berada di luar mushola,

- SYAH HUKUM NYA jika ma'mum berada di depan pintu,
- SYAH HUKUM NYA bagi ma'mum yang berada di luar mushola yang mana ma'mum tersebut berada di kanan kiri nya ( di samping ) ma'mum yang berjama'ah di depan pintu itu, dan juga ma'mum yang di belakang atau di samping yang bisa tembus menuju ma'mum tersebut, ( karena hukum tembus nya ke ma'mum tersebut itu di hukumi seperti tembus ke imam )
- TIDAK SYAH HUKUM NYA jika ma'mum berada di samping mushola, sebab pintu mushola berada di depan, itu artinya, ma'mum yang ada di samping mushola andai bisa tembus ke imam itu harus mebelakangi kibat ( jalan nya ke arah belakang ) adapun jika jalan nya hanya kesamping itu tidak lah apa2,

Contoh Kronologis nya, jika di mushola PONPES EL TIBYAN Medeng, Bulaksari , Bantar sari, Cilacap :

- SYAH ma'mum yang berada tepat di pintu samping yang depan, sebab pintu mushola nya kan ada di samping mushola juga,
- SYAH ma'mum yang berada di teras mushola bagian kanan ( mburi koprasi )
- SYAH ma'mum yang berada, misal nya berada di halaman nya musafa,, sebab ada jalan tembus, meskipun harus menyamping dan meskipun sudah melewati jalan raya ( andai ada mubaligh )
- SYAH ma'mum yang berada di pintu gerbang dan orang yang ma'mum di teras koperasi wetan,, (andai ada mubaligh )
- TIDAK SYAH ma'mum yang berada di samping mushola, yang berada di samping jendela paling depan, sebab jalan tembus nya harus membelakangi qiblat,,
- TIDAK SYAH ma'mum yang berada di depan koperasi, sebab jalan tembus nya harus ke arah belakang,, yaitu membelakangi qiblat,,

Nb: bagi yang punya kitab nya, mohon di cocokan ta'bir nya, dan kalau ada ketikan yang salah, mohon di betulkan, terima kasih.

Terima kasih juga telah berkunjung di blog ku, semoga bermanfaat, aamiin.

Senin, 16 Februari 2015

Hukum membawa barang barang waqof milik masjid

Menggunakan fasilitas fasilitas Masjid, seperti: Jeding, WC, Tikar Masjid DLL apabila tidak untuk LI 'IMAROTIL MASJID (meramaikan Masjid dengan Ibadah), maka hukum-y haram.
ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ: 1/69
ﻣﻦ ﺗﺼﺪﻕ ﺑﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻭﻗﻒ ﻣﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻄﻬﻮﺭ ﺑﻤﺴﺠﺪ ﻛﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻧﻘﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﻻ ﻟﻐﻴﺮﻫﺎ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﻻ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺒﻞ ﻳﺤﺮﻡ ﻧﻘﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺤﻞ ﺁﺧﺮ ﻻ ﻳﻨﺴﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﺎﻟﺨﻠﻮﺓ .

ﺭﻭﺍﺋﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ: 573
ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺣﺼﺮ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻻ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻓﺮﺷﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎً ﺳﻮﺍﺀ ﺃﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺃﻡ ﻻ ﻭﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﻋﺮﺍﺱ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺇﻧﻜﺎﺭﻫﺎ ﻭﻗﺪ ﺷﺪﺩ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻨﻜﻴﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﻔﺮﺷﻬﺎ ﺍﻷﻋﺮﺍﺱ ﻭﺍﻷﻓﺮﺍﺡ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻳﺤﺮﻡ ﻓﺮﺷﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺁﺧﺮ

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ.

Hukum Anggota Yang Terlepas Dari Orang Junub

Dalam kasus ini terjadi khilaf dikalangan ulama'

Menurut Imam Ghozali, sebaiknya membasuhnya, karena bila anggota badan tersebut tidak dibasuh maka di akhirat akan dikembalikan dalam keadaan hadats.

وَاَمَّا قَوْلُ صَاحِبُ اْلاِحْياَءِ وَسَائِرُ أَجْزاَ الْجُنُبِ تُرَدُّ اِلَيْهِ فِي اْلأَخِرَةِ فَيَعُوْدُ اَىْ مَااُزِيْلَ قَبْلَ اْلغُسْلِ جُنُباً

Imam Ghozali berpendapat: bagian-bagian anggota tubuh (yang terlepas) yang masih menanggung junub diakhirat akan dikembalikan dalam kondisi menanggung junub (hadats). (al-Qulyubi, juz I, hal. 67)

Menurut Syaich Zainuddin bin 'Abdil Aziz al-Malibari, tidak wajib membasuh anggota badan yang sudah lepas, hanya diwajibkan pada anggota yang dzohir atau yang melekat saja.

( وَ ) ثاَنِيْهِمَا ( تَعْمِيْمُ ) ظَاهِرُ ( بَدَنٍ حَتىَّ ) َاْلأَظْفاَرَ وَماَ تَحْتَهاَ وَ ( الشَّعْرَ ) ظَاهِرًا وَباَطِناً وَإِنْ كَثِفَ وَماَ ظَهَرَ مِنْ نَحْوِ مَنْبَتِ شَعْرَةٍ زَالَتْ قَبْلَ غَسْلِهاَ

Syarat yang kedua yaitu meratakan air pada seluruh anggota dzohir badan hingga kuku dan di bagian bawahnya, rambut bagian luar dan dalam, yakni tempat tumbuhnya rambut yang telah lepas sebelum mandi. (Fath al-Mu’in, hal. 10)

Dalam kitab I'anah menghukumi Makruh bagi orang yang mempunyai hadats besar sengaja memotong bagian anggota badan, karena di akhirat nanti bagian yang dipotong akan dikembalikan dalam keadaan hadats besar. (I’anah at-Thalibin, juz I, hal.79)

( قَوْلُهُ وَيَنْبَغِيْ أَنْ لا َيَزِيْلُوْا إِلَخْ ) قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَلِّمَ أَوْ يَحْلِقَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبَيِّنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ يُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُ بِجِناَبَتِهَا اهـ

Sedang Dalam Kitab Nihayah menghukumi boleh, Boleh hukumnya melakukan hal di atas dalam kondisi hadats besar.

وَمَنْ لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ لَهُ اَنْ لاَّ يُزِيْلَ شَيْأً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْدَمًا أَوْشَعْرًا أَوْظَفَرًا حَتَّى يَغْسِلُ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فِى اْلاَخِرَةِ فَلَوْ إِزَلَهُ قَبْلَ اْلغُسْلِ عَادَ عَلَيْهِ الْحَدَثُ اْلأَكْبَرُ تَبْكِيْتاً لِلشَّخْصِ . نهاية الزين ص 31

Untuk menarik benang merah dari beberapa refrensi diatas, intinya untuk kehati hatian dan merupakan bentuk rasa ta'dhim kepada para ulama', maka tergantung kesengajaan dan tidaknya, jika sengaja, maka lebih baik dibasuh, dan jika tidak sengaja, berarti sebaliknya.

Namun untk kehati hatian nya sebaiknya dan lebih utama adalah dikumpulkan dan dibasuh sa'at mandi, baik itu sengaja atau tidak sengaja.

والله أعلم

Jumat, 06 Februari 2015

RINGKASAN CARA NIAT SHOLAT JENAZAH OLEH SYADILY NU

RUKUN DAN PEMRAKTEKAN SHOLAT JENAZAH RINGKAS OLEH SYADILY NU

RUKUN SHOLAT JENAZAH ADA TUJUH:

1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu
3. Empat takbir
4. Membaca Fatichah setelah takbir pertama atau
takbir ke dua dan seterus nya
5. Membaca Sholawat
nabi sesudah takbir ke dua
6. Mendo’akan mayit
7. Salam


PEMRAKTEKAN RINGKAS NYA


1- ﺃﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ

Di dalam hati sambil

ﺃﺻﻠﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻠﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻴﺖ

Lalu membaca surat al fatichah/ nanti setelah
takbir ke dua atau ke tiga atau ke empat .

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ . ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ . ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ . ﺇﻳﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ
ﻭﺇﻳﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ . ﺇﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ . ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ
ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﻐﻀﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ

2- ﺃﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ

ﺃﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻲ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ

3- ﺃﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ

ﺃﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻪ

4- ﺃﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ

Setelah takbir ke empat sebelum salam, di sunat
kan membaca do’a :

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﺤﺮﻣﻨﺎ ﺃﺟﺮﻩ ﻭﻻ ﺗﻔﺘﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺍﻏﻔﺮﻟﻨﺎ ﻭﻟﻪ

REFERENSI:
Kitab I’anatuttholibin juz 2, dari halaman 141
sampai 145 .

Penjelasan singkat tentang sumber kuota data internet

  Internet itu apa? Internet adalah jaringan komputer global yang terhubung bersama yang memungkinkan pengguna untuk saling bertukar info...